Gunungan
light_mode
Beranda » Hukum » Sayap yang Terbakar: Ujian Iman dan Integritas

Sayap yang Terbakar: Ujian Iman dan Integritas

  • account_circle Redaksi Goro-goro
  • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Refleksi sunyi dari balik jeruji: iman, integritas, dan keberanian melawan fitnah lewat pena dan doa.

Oleh: Rezphaty

Identitas Buku
Judul. : Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit : The Bright Way To Freedom And Faith
Penulis : Babay Farid Wazdi
Hal. : XIII + 232
ISBN. : 978-634-7054-53-0
Penerbit : Suara Muhammadiyah
Terbit. : Cetakan Pertama, Maret 2026

HAL yang jamak dilakukan para politisi maupun pejabat –termasuk para mantan– yang tersangkut masalah korupsi biasanya akan mengumbar pernyataan ke publik klau kasus yang menimpanya merupakan upaya krIminalisasi, politisasi dengan menyakinkan publik lewat sumpah-sumpah serapah seolah tak terlibat dalam kasus yang dituduhkan atau didakwahkannya.

Framing jahat, pemberitaan negatif yang bertubi-tubi haruslah dilawan, namun bukan dengan retorika bombatis yang hiperbol atau dengan menghamer kanan Kiri, maupun sumpah-sumpah serapah atas nama apapun.

Babay justru memilih jalan sunyi dalam melakukan aksi refleksi, mengevaluasi perjalanan hidupnya tentang niat sucinya, kebersihan batinnya, sandaran dalam bekerja maupun tentang amal sholehnya/kerja profesionalnya, (hal. 37).

Hasil refleksi selama dalam rumah deruji dicoret coretkan dalam sebuah cerita runut, jernih –tak emosional– dan mendalam ke publik lewat esai-esai dan puisi-puisi di publis pada portal suaramuhammadiyah.id.

Jalan sunyi itu sebagai sarana untuk melawan framing jahat yang beredar dipublik Babay memilih pena sebagai pedang untuk melawan fitnah dan doa sebagai perisai, (hal. 48). Hasil pergulatan selama berada di Salemba kemudian dijadikan buku yang pembaca tengah nikmati dengan Judul, Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit : The Bright Way To Freedom And Faith.

Saya sendiri tidak secara khusus mengikuti perjalanan dan perkembangan kasus yang menimpa Babay, namun dengan membaca buku ini pembaca akan tahu, bahwa niat baik, kerja professional, tak asaz, aturan, dan procedure, berprestasi, hidup sederhana dan tak neko-neko yang dijalani puluhan tahun dengan selalu menjaga reputasi dan integritas diri bukanlah jaminan untuk tidak diperkarakan oleh yang lain. Dan ini menjadi pengingat bags siapa pun yang bekerja dalam system yang penuh dengan pat guli pat.

Dengan mengambil metafor burung Pipit, penulis nampaknya hendak memberkan gambaran pada pembaca bahwa kita hanyalah mahkluk kecil, nan lemah.

Kendati begitu haruslah tetap menunjukkan sikap keperpihakan yang jelas pada kebenaran dan berani menegakkannya, walau berada, ditengah atau didalam sistem yang penuh pat guli pat, sebagaimana kisah burung Pipit dalam kisah Nabi Ibrahim.

Burung Pipit yang kecil itu, bolak balik ke sungai untuk mengambil air lalu disemprotkan ke kobaran api yang membakar Ibrahim.

Memang tidak berdampak signifikan dalam memadamkan api namun tetap dilakukan Karena sikapnya yang bepihak pada Ibrahim. Di tertawakan, di bully itu pasti namun dengan keteguhan hati dan keyakinan yang mendalam tetap dilakukan. Hal itu bukan tanpa resiko, sayap burung Pipit pun terbakar oleh kobaran api yang menyala nyala.

Dan sayap Sang Burung Pipit pun “Ikut terbakar”, saat menyemburkan air untuk memadamkan kobaran api korupsi. Ya “terbakar” menjadi terdakwah masuklah dalam sangkar besi penjara. Awalnya shock, seolah seluruh aliran darah berhenti, dunia terasa berhenti putar.

Puluhan tahun menjaga reputasi dan integritas hilang terbakar kobaran api. Padahal prinsipnya hidupnya sederhana “berhentilah makan sebelum kenyang”.

Batinnya meronta, pikiran berkecamuk, namun ketika sang burung Babay Pipit mengembalikan semua persoalan yang terjadi pada Allah pasrah akan kehendakNya mulai menemukan ketenangan dan keterharuan.

Sebagaimana kisah Burung Pipit yang selalu berdzikir bertasbih tiba-tiba berhenti lantaran sarangnya terhempas oleh angin yang bertiup sangat kencang.

Burung Pipit protes menghadap Allah, “Ya Robb sarang tempat beristirahat ku, Engkau kirimkan angin kencang, hingga memporak porandakan sarangku”, ujar burung Pipit dengan Nada protes sambil meneteskan air mata menahan rasa sedih yang sangat dalam.

Allah SWT pun menjelaskan : “Ketka kamu sedang terlelap, ada seekor ular yang mendekati sarangmu dan siap memangsamu. Maka sengaja Aku kirimkan angin untuk membalikkan sarangmu agar kamu terbangun, terbang dan selamat. Betapa besarnya ancaman yang telah Aku jauhkan darimu”

Mendengar jawaban Allah Air mata burung pipit semakin menggenang, bukan karena sedih dan kecewa. Namun terharu, suara tangisnya membelah keheningan langit, “Alangkah lembutnya wahai engkau Yaa Robb.

Dengan kembali pada Allah atas apanya Sang Burung Pipit pun mulai tenang. Ketenangan kita akan menjadi kunci dalam menjaga ketenangan keluarga. “Keluarga harus tenang”, karena jika mereka panik, batin kita akan ikut rapuh”, tulisnya, (hal. 4).

Selain tenang, sehat adalah suatu yang harus jaga dalam menghadapi kasus atau persoalanan yang menimpanya. Ketika sakit di penjara maka akan sangat mahal harga, untuk keluar/ijin berobat aja terkadang harus mengeluarkan jutaan rupiah.

Pasrah menerima takdir, ketentuan Allah, bukan berarti diam membisu tanpa bergerak namun memerima kenyataan berdamai dengan realitas tetapi tetap produktif, dengan mengelola ketakutan menjadi disiplin, menyusun jadwal aktivitas produktif selama doormats, seperti sholat wajib atau sunat.

Olah raga, membaca kitab suci atau buku-buku. Kesemua dilakukan penuh disiplin agar pikiran tetap waras, raga tetap sehat dan hati tidak muncul kebencian dan emosi kemarahan maupun keputus azaan.

Dalam bab selanjutnya, Bab II penulis merefleksikanan pejalanan pengabdianya dari desa, kisah pengabdiannya pada keluarga/orang tua, pengalaman dalam mengabdi pada umat dan bangsa hingga refleksi tentang relasi negara dan keadilan.

Dalam meniti jalan pengabdian itu terutama di karir profesional, kadang mengalami kejenuhan, kelelahan dan godan-godaan yang bersifat duniawi. Untuk menjaga integritas penulis merefleksikan ulang-ulang kisah-kisah teladan dari berbagai tokoh Pak AR Fahruddin, Bung Hatta dan lainnya.

Bab III Dan IV dengan menikul kisah Nabi Yusuf penulis mencoba mengambil pesan moral yang menginspirasi lahirnya pemikiran atau gagasan dalam memberikan saran dan solusi dalam menyelesaikan transformasi hukum, mensinkronkan kepastian hukum dengan kebijakan economi, perlunya kebijakan berbasis Merit System, hingga hadirnya kualitas personal sumber daya manusia memiliki integritas.

Pribadi-Pribadi yang senantiasa menjaga komitmen kelurusan dan kesatuan niat, doa, pikiran, ucapan dan perbuatan menjadi satu kesatuan yang utuh.

Pada Bab V Puisi Anak Negeri, dengan ada bab khusus yang berisi puisi (hal. 187-216) memberi makna yang lebih mendalam kandungan isi buku ini. Pesan, perasaan, atau gagasan mendalam disampaikan puitis melalui diksi, menyentuh emosi pembaca.

Bab VI memuat surat-surat pribadi Babay Farid Wazdi. Ya, surat-surat secara jamak merupakan kegiatan personal, akan tetapi ketika surat-surat dipublis maka akan bermakna sosial, bisa untuk umum.

Apalagi pesan-pesan yang disampaikan tidak sekedar personal namun menyangkut hal yang lebih besar dan mendalam (hal. 219-220) tentang mencintai negeri/nasionalisme, integritas, keteguhan hati, berpikir postif dan selalu berprasangka baik dalam kondisi apapun walau terkena badai sekalipun.

Buku ini tak sekedar untuk memberi klarifikasi terhadap kasusnya, namun juga mencerminkan perjalanan spiritual dan intelektual penulis, dengan mengangkat tema keagamaan, tasawuf, dan refleksi pengabdian sosial baik pada keluarga maupun umat.

Dengan penulisan yang sangat personal dan reflektif, pembaca seolah digiring untuk dbawa masuk dan terlibat secara emosional perjalanan Penulis. []

Mataram Kartasura, 23 April 2026

  • Penulis: Redaksi Goro-goro

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less