DR. Lukman Hakim: “KAHMI & HMI Harus Menginisiasi Gerakan Menghidupkan Masjid”
- account_circle Redaksi Goro-goro
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat, MUI Surakarta, Lukman Hakim, mengawali pemaparan diskusi dengan merujuk buku “Menghidupkan Masjid Kita” karya Ustad Muhammad Jazir ASP dan Ustad Salimc A. Fillah. “Dalam buku ini”, ujarnya, “dijelaskan secara lengkap dan praktis bagaimana masjid dikelola secara profesional, sehingga masjid tidak sekedar menjadi tempat ibadah ritual namun mampu menjadi solusi nyata bagi persoalan jamaah dan masyarakat”, lanjutnya.
Hal tersebut beliau sampaikan dalam diskusi di Kantor Pengacara dan Konsultan Hukum MBZ n Partner yang diselenggarakan oleh MD KAHMI, 15 Mei 2026, dengan thema “Eksistensi Masjid dan Reproduksi Embriologi Kepimpinan Organik (Dalam membaca arah zaman : Das Sein – Das Sollen).
Dalam forum diskusi tersebut dihadiri oleh MD KAHMI Surakarta, MD KAHMI Sukoharjo, Pengurus dan anggota HMI Cab. Surakarta, Pengurus dan Anggota HMI Cab. Sukoharjo, dan Forum HMI wati (Forhati) Surakarta dan Sukoharjo.
Lebih lanjut dosen FEB UNS mengungkap, bahwa “Langkah pertama menurut pejelasan buku ini”, lanjut pak Lukman, adalah dengan melakukan pendataan jamaahnya, yang terkait dengan kondisi apapun dari jamaah. Misalnya pekerjaan, penghasilan, jumlah anak, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Data tersebut dikelola untuk kemudian dijadikan rujukan dalam menyusun program kerja, langkah aksi untuk segera dieksekusi.
“Nah, rata-rata bahkan kebanyakan masjid tidak memiliki data jamaah, sehingga pengurus atau takmir masjid kebingungan mau apa, akibatnya uang infak, shodaqoh, dan lainnya dari jamaah hanya terkumpul saja tanpa kepastian kapan didayagunakan manfaatnya”, lanjutya. Dalam buku ini dijelaskan hasil infak, shodaqoh, maupun zakat dan wakaf harus segera disalurkan, sehingga pahala akan segera mengalir ke mereka yang menitipkan hartanya ke masjid.
Sebagai kaum terdidik MD KAHMI Solo harus berani mengambil langkah untuk mendampingi masjid-masjid dalam rangka pendataan ini. “Saya yakin anggota kahmi banyak yang aktif di masjid-masjid, kita ambil saja 3-5 masjid sebagai pilot project, kita undang pengurus masjidnya, untuk membahas hal ini sekaligus merumuskan data-data apa saja yang perlu digali dari jamaah. Adik-Adik HMI sama remaja masjid nanti yang mengeksekusi di lapangan”, lanjutnya. Hasil pendataan tersebut, dikelola oleh Kahmi dan pengurus masjid menjadi program kerja, yang pelaksanaan disesuaikan kemampuan masing-masing masjid.
“Untuk pendataan ini bisa menggandeng bank-bank syariah, dan saya yakin Bank-Bank itu akan antusias, sebab mereka memerlukan data itu, “papar Lukman lebih lanjut.
Tawaran konkrit lainnya yang ditawarkan oleh Mas Lukman, (sapaan akrabnya), dengan untuk segera menghidupkan dan memakmurkan masjid menggelar event. “Ambil moment bulan Muharam yang masih dua bulan lagi itu”.
Ketiga perlu membentuk jaringan komunikasi antar masjid yang berbasis digital. Sehingga kebutuhan yang diperlukan masjid dengan mudah dikomunikasikan dan ditemukan solutif yang tepat.
Misalnya saja saat Idul Qurban di beberapa masjid –sebut saja masjid saya– terdapat kelebihan daging Qurban, sementara di tempat lain ada yang kekurangan bahkan belum ada sama sekali masyarakat yang menerima. Nah dengan adanya jaringan komunikasi akan memudahkan jalan penyelesaiannya.
Dalam forum diskusi itu pula Mas Lukman juga menyampaikan perlunya menggerakkan wakaf yang diberikan dalam jangka waktu tertentu. Harta yang diwakafkan dapat dipergunakan terbatas oleh waktu atau dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan, yang bisa disebut Wakaf Mu’aqqot.
“Misalnya seorang punya sawah 1 ha diwakafkan selama 10 tahun ke Masjid B, nah hasil dari sawah bisa digunakan atau dimanfaatkan oleh Masjid B untuk membantu jamaahnya. Bisa untuk beasiswa pendidikan, gaji guru TPA, modal usaha dan sebagainya.”
Dalam diskusi tersebut, senior KAHMI, Mas Hari Mulyadi, sempat menyatakan. “ Kalau diskusi ketiga kali ini diskusi soal masjid, diskusi berikutnya – yang ke empat– harus action atau aksi nyata, kalau gak, gak perlu diskusi, kalau cuma omon-omon atau ngobrol di warung HIK aja” ujarnya dengan penuh semangat. Lebih lanjut Mas Hari mengajak pada kader-kader HMI untuk menjadi kader dakwah, dan menawari para kader HMI menjadi marbot-marbot masjid”.
Sebagai informasi diskusi pembahasan masjid oleh MD KAHMI Solo, yang pertama digelar pada 20 November 2025 di Pondok Pasantren Darul Fatihil Kirom, Ngemplak Kartasura. Dengan nasasumber Agus Wahyu Triyatmo (Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta), dan Yudo Purnomo (Aktivis masjid Surakarta). Diskusi ke dua kediaman pengurus MD KAHMI Surakarta, Anas Syahirul Gentan, Baki, Sukoharjo pada 24 Desember 2025, dengan pemantik diskusi Prof. Aidul Fitriciada Azhari (Ketua Komisi Yudisial 2016/2018 dengan dimoderatori oleh Sholahuddin, S.Sos.
/Redaksi.
- Penulis: Redaksi Goro-goro
