Outlook Ekonomi Solo Raya 2026, Lukman Hakim: Sektor Jasa Jadi Tulang Punggung Aglomerasi Solo Raya
- account_circle Redaksi Goro-goro
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- print Cetak

Outlook Ekonomi Solo Raya 2026/Foto: Edited Foto: Yant Subiyanto/ai
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Forum ekonomi menegaskan jasa, pendidikan, dan pariwisata sebagai arah baru pertumbuhan Solo Raya.
GORO-GORO.ID — Di tengah dinamika ekonomi Solo Raya yang terus bergerak, wacana penguatan aglomerasi wilayah kembali mengemuka sebagai jalan menuju pertumbuhan baru. Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Surakarta, Lukman Hakim, menilai potensi itu sangat besar untuk diwujudkan, dengan satu syarat utama: dimulai dari sektor jasa sebagai fondasi penggeraknya.
Pernyataan tersebut disampaikan Lukman saat menjadi pembicara dalam forum Outlook Ekonomi Solo Raya 2026 bertema “Sinergi Infrastruktur Ekonomi dan Inovasi untuk Akselerasi Pertumbuhan Regional Solo Raya” yang digelar di Sunan Hotel, Surakarta, Rabu (4/2/2026).
“Aglomerasi Solo Raya sangat potensial untuk dicapai, asalkan dimulai dari potensi ekonomi yang sudah terbukti kuat, khususnya sektor jasa,” ujar Lukman.
Ia menjelaskan, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan pergeseran struktur ekonomi Solo Raya yang semakin menjauh dari sektor pertanian.
Kontribusi pertanian terus menurun, sementara sektor manufaktur mengalami fluktuasi dan tidak menunjukkan stabilitas jangka panjang.
“Sektor pertanian terus menurun, sektor manufaktur naik turun dan tidak stabil. Sebaliknya, sektor jasa justru melesat dan menjadi penopang utama ekonomi Solo Raya,” katanya.
Sebagai Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman memaparkan bahwa dominasi sektor jasa tampak nyata di sejumlah daerah.
Kota Surakarta ditopang hingga 71 persen oleh sektor jasa, disusul Sukoharjo 50 persen dan Klaten 47 persen, dengan rata-rata kawasan Solo Raya mencapai 47,9 persen.
“Dengan struktur seperti ini, tidak mengherankan jika event berbasis jasa seperti Solo Great Sale bisa berjalan sangat sukses,” ujarnya.
Menurut Lukman, Solo Raya memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai pusat jasa, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan pariwisata. Hal ini didukung oleh keberadaan puluhan perguruan tinggi serta fasilitas kesehatan yang relatif lengkap.
“Menggerakkan Solo Raya dengan basis jasa akan jauh lebih mudah, karena tren ke depan memang bergerak ke arah sana,” kata Lukman.
Ia pun mendorong perlunya penyusunan grand design aglomerasi Solo Raya yang terfokus pada penguatan sektor jasa, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata sebagai strategi jangka panjang pertumbuhan ekonomi regional.
Forum Outlook Ekonomi Solo Raya 2026 ini juga menghadirkan sejumlah narasumber lain, antara lain Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah Herry Nuryanto, serta Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebagai keynote speaker.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi menyebut forum ini sebagai titik awal penyamaan visi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan arah baru pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
Solo Raya sendiri direncanakan menjadi pilot project pengembangan wilayah ekonomi berbasis aglomerasi di Jawa Tengah, sebelum diterapkan di wilayah eks-karesidenan lainnya. []
- Penulis: Redaksi Goro-goro
