5%: Ujian Atau Peringatan Bagi PPP?
- account_circle Redaksi Goro-goro
- calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Catatan Politik Amien Firmansyah, Sekretaris PPP Kota Surakarta
Lima persen.
Angka itu terlihat kecil. Hanya naik satu persen dari ambang batas 4 persen yang berlaku pada Pemilu 2024.
Tetapi dalam politik nasional, satu persen bukan angka kecil.
Bagi partai politik, satu persen bisa berarti ratusan ribu suara. Dan bagi jutaan pemilih, ambang batas bukan sekadar persoalan matematika. Di sana ada hak politik, ada pilihan rakyat, dan ada suara yang berharap diterjemahkan menjadi representasi di parlemen.
PPP sudah merasakan sendiri konsekuensi dari persoalan ini.
Pada Pemilu 2024, PPP memperoleh 5.878.777 suara atau 3,87 persen secara nasional. Karena berada di bawah ambang batas 4 persen, suara tersebut tidak ikut dalam penentuan kursi DPR RI.
Maka ketika hari ini muncul wacana ambang batas 5 persen, PPP tidak boleh bersikap biasa-biasa saja.
Ini bukan sekadar soal apakah PPP mampu mencapai angka 5 persen. Ini soal apakah PPP mau melakukan perubahan besar sebelum 2029.
JANGAN TAKUT PADA ANGKA
Saya tidak ingin kader PPP melihat angka 5 persen sebagai sesuatu yang harus ditakuti.
Justru sebaliknya.
Angka itu harus menjadi alarm.
Alarm untuk membangunkan struktur partai.
Alarm untuk memperkuat kaderisasi.
Alarm untuk memperbaiki komunikasi dengan masyarakat.
Alarm untuk membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda.
Dan yang paling penting, alarm agar PPP tidak hanya hadir ketika pemilu sudah dekat.
Partai politik tidak bisa meminta kepercayaan masyarakat hanya dengan baliho, spanduk dan slogan.
Kepercayaan harus dibangun jauh sebelum surat suara berada di tangan pemilih.
SURAKARTA TIDAK BOLEH HANYA MENUNGGU
Bagi PPP Kota Surakarta, tantangan 2029 harus dijawab mulai sekarang.
Surakarta memang hanya satu bagian dari peta politik nasional. Tetapi suara nasional dibangun dari suara di daerah.
Maka jangan pernah menganggap satu kecamatan tidak penting.
Jangan menganggap satu kelurahan terlalu kecil.
Jangan menganggap satu kader tidak berarti.
Dan jangan menganggap satu suara tidak berharga.
Jutaan suara nasional selalu dimulai dari suara rakyat di daerah.
Karena itu, pekerjaan PPP Kota Surakarta bukan sekadar mengejar kursi.
Pekerjaan yang lebih besar adalah membangun kembali hubungan politik dengan masyarakat.
Datang ketika masyarakat membutuhkan.
Mendengar ketika masyarakat berbicara.
Bekerja ketika tidak ada kamera.
Dan menunjukkan bahwa PPP bukan hanya nama yang muncul lima tahun sekali.
KALAU ATURANNYA BERUBAH, PPP JUGA HARUS BERUBAH
Mahkamah Konstitusi telah menyatakan bahwa untuk Pemilu 2029 dan pemilu berikutnya, ketentuan ambang batas parlemen perlu diubah. MK juga menekankan bahwa perubahan tersebut harus memiliki dasar metode dan argumentasi yang memadai, menjaga proporsionalitas, meminimalkan suara yang tidak dapat dikonversi menjadi kursi, serta tetap mempertimbangkan penyederhanaan partai politik.
Artinya, persoalan ini belum selesai.
Angka 5 persen masih merupakan bagian dari wacana perubahan, bukan angka final yang sudah ditetapkan dalam aturan baru. Bahkan pada 2026 terdapat perdebatan mengenai berbagai kemungkinan angka ambang batas.
Tetapi bagi PPP, menunggu kepastian angka bukan alasan untuk menunggu bekerja.
Aturan boleh berubah. Strategi harus lebih cepat berubah.
PPP HARUS BERANI BERCERMIN
Kita perlu jujur kepada diri sendiri.
Kalau target kita adalah kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan, maka tidak cukup hanya mengatakan bahwa PPP punya sejarah panjang.
Sejarah adalah modal.
Tetapi sejarah tidak otomatis menghasilkan suara.
Kita tidak bisa hanya berkata bahwa PPP pernah besar.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang kita lakukan hari ini agar masyarakat kembali percaya kepada PPP?
Itulah pekerjaan rumah kita.
Bukan hanya DPP.
Bukan hanya DPW.
Tetapi seluruh struktur sampai tingkat paling bawah.
5 PERSEN HARUS MENJADI TITIK BALIK
Saya melihat wacana 5 persen bukan semata-mata sebagai ancaman.
Saya melihatnya sebagai peringatan sekaligus momentum untuk berbenah.
Kalau kita ingin kembali mendapatkan tempat di parlemen nasional, maka kita harus bekerja dengan cara yang berbeda.
Lebih terukur.
Lebih terbuka.
Lebih dekat dengan masyarakat.
Lebih serius melakukan kaderisasi.
Dan lebih konsisten menjaga kepercayaan publik.
Jangan sampai kita baru sibuk menghitung suara ketika pemilu sudah di depan mata.
Suara pemilu adalah hasil dari kerja politik yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.
DARI SURAKARTA KITA MULAI
Karena itu, saya ingin PPP Kota Surakarta tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika perubahan politik nasional.
Kita harus menjadi bagian dari proses kebangkitan itu.
Mari kita mulai dari Surakarta.
Perkuat struktur.
Hidupkan kader.
Rangkul generasi muda.
Dekati masyarakat.
Bangun komunikasi.
Dan lakukan kerja nyata.
Tidak perlu menunggu 2029.
Mulai sekarang.
Sebab pada akhirnya, lima persen bukan sekadar angka.
Di balik lima persen ada jutaan rakyat Indonesia.
Di balik setiap suara ada kepercayaan.
Dan kepercayaan tidak bisa diminta.
Kepercayaan harus diperjuangkan.
5 persen boleh menjadi ambang batas.
Tetapi jangan biarkan ia menjadi batas keberanian kita untuk berbenah.
Amien Firmansyah
Sekretaris DPD PPP Kota Surakarta
- Penulis: Redaksi Goro-goro
