Gunungan
light_mode
Beranda » Hukum » Pak Presiden, Tolonglah Ayahku: Surat Anak Bungsu Babay Farid Wazdi dalam Kasus Sritex

Pak Presiden, Tolonglah Ayahku: Surat Anak Bungsu Babay Farid Wazdi dalam Kasus Sritex

  • account_circle Redaksi Goro-goro
  • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Surat terbuka anak Babay Farid Wazdi kepada Presiden Prabowo mengundang perhatian publik dan empati luas.

GORO-GORO.ID – Di tengah riuh perkara hukum yang membelit kasus kredit PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), nama Babay Farid Wazdi (BFW), mantan Direktur Kredit UMK Bank DKI, kembali menjadi sorotan publik. Babay saat ini tengah menjalani proses hukum atas pemberian fasilitas kredit kepada perusahaan tekstil tersebut.

Sidang perdana Babay digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang pada Selasa, 23 Desember 2025. Dalam persidangan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan dakwaan terkait perkara kredit Sritex.

Selanjutnya, pada Selasa, 6 Januari 2026, Babay Farid Wazdi mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan tersebut. Hingga kini, ia masih menanti putusan sela dari majelis hakim serta tanggapan lanjutan dari pihak penuntut umum.

Di tengah proses hukum yang berjalan, dukungan moral datang dari lingkar keluarga. Terbaru, publik dikejutkan oleh sebuah surat terbuka yang ditulis oleh anak bungsu Babay Farid Wazdi dan ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Surat tersebut diunggah melalui akun Instagram @pipitibrahim pada Kamis, 15 Januari 2026. Isinya menggambarkan kerinduan, kegelisahan, sekaligus harapan seorang anak terhadap ayahnya yang tengah menghadapi proses hukum.

Berikut penggalan surat terbuka dari anak bungsu Babay Farid Wazdi:

“Ayah.. Apakah Pak Presiden akan menolog kita? Biasanya… ayahku hadir di boarding tempat aku menuntut ilmu 2 minggu sekali. Ia bekerja di Sumatera namun sepertinya ia memaksakan rutin pulang untukku, mas2ku, dan mamaku.

Setengah tahun sudah tawanya tak kudengar di lingkungan sekolahku ini. Sholat jamaahnya tak kulihat di masjid sekolahku ini. Ia bagai raib tak tentu rimbanya.

Ayah, aku tidak tau ayah sampai kapan di sana. Kalau kutanya mamah, katanya pasti ada jalan. Allah pasti menolong dari pintu yang kita tidak tau.

Pak Prabowo, Pak Presiden Indonesia, tolonglah ayahku. Tom Lembong pernah ditolong, Bu Ira juga. Mereka sama-sama tidak pernah mencuri, sama dengan ayahku.”

“2 bulan lalu, mamaku baru memberitahuku. Takut mentalku jatuh, takut aku nggak kuat jika aku tau dari awal. Aku menangis, terdiam, lalu menangis lagi. Aku tidak percaya….”

Surat itu menjadi potret kegelisahan seorang anak yang menanti kepastian nasib ayahnya, sekaligus menambah dimensi kemanusiaan di balik proses hukum yang masih berjalan. []

  • Penulis: Redaksi Goro-goro

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less