Diskusi Publik Milad ke-79 HMI Surakarta, Dr. Okta Hadi: Populisme Keislaman Terbentuk lewat Praktik Sosial
- account_circle Redaksi Goro-goro
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- print Cetak

Diskusi Publik Milad ke-79 HMI Surakarta
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Diskusi publik HMI Surakarta mengulas reproduksi populisme keislaman dan dampaknya terhadap dinamika sosial-politik lokal.
GORO-GORO.ID – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surakarta menggelar diskusi publik dalam rangka Milad HMI ke-79 dengan tema “Reproduksi Habitus Populisme Ke-Islaman di Surakarta” di Sekretariat HMI Cabang Surakarta, Jalan Yosodipuro No. 81, Kamis (5/2/2026) malam.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Okta Hadi N., S.Pd., M.Si., MA, Sekretaris MD KAHMI Surakarta, sebagai pembicara utama.
Diskusi dipandu Agus Sulistyo, S.E., M.M., Kordiv P2H Bawaslu Solo, dan menghadirkan Nurul Khawari, S.S., sejarawan, sebagai penanggap.
Dalam pemaparannya, Dr. Okta menyampaikan bahwa Surakarta memiliki mayoritas penduduk Muslim yang membentuk potensi sosial dan politik yang signifikan.
“Identitas keislaman masyarakat Surakarta tidak hanya tercermin dalam praktik ibadah, tetapi juga dalam ekspresi sosial, budaya, dan politik,” ujar Dr. Okta.
Ia menjelaskan bahwa Surakarta menjadi ruang pertemuan berbagai aliran, organisasi, dan gerakan Islam.
Menurutnya, keragaman tersebut membentuk wajah keislaman lokal yang dinamis dan terus berkembang.
“Habitus keislaman tidak terbentuk secara alamiah, tetapi direproduksi melalui praktik sosial, diskursus, dan relasi kekuasaan yang berlangsung terus-menerus,” katanya.
Dr. Okta menambahkan bahwa populisme keislaman muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial, politik, dan ekonomi.
“Fenomena ini tidak hanya melibatkan aktor politik, tetapi juga organisasi keagamaan, tokoh agama, dan jaringan sosial keislaman yang membentuk opini publik serta memengaruhi perilaku kolektif masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran organisasi Islam dalam membentuk nilai dan cara pandang umat melalui kegiatan dakwah, pendidikan, dan sosial.
“Pengajian rutin, majelis taklim, dan kegiatan keagamaan lainnya menjadi sarana internalisasi nilai dan norma keislaman dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Surakarta,” kata Dr. Okta.
Selain itu, ia menekankan peran media dalam produksi wacana populisme keislaman.
“Media, baik cetak, elektronik, maupun media sosial, memperkuat narasi keislaman melalui pemberitaan, opini, dan konten digital. Media sosial khususnya mempercepat penyebaran wacana tersebut,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas praktik ritual dan simbolik sebagai bagian dari reproduksi habitus keislaman.
Dr. Okta menyebut penggunaan simbol keagamaan, seperti pakaian, bahasa, dan atribut religius, menjadi sarana penegasan identitas keislaman di ruang publik.
“Ritual keagamaan seperti pengajian akbar dan peringatan hari besar Islam memperkuat solidaritas dan kohesi sosial,” katanya.
Diskusi turut mengulas keterkaitan antara populisme keislaman dan politik lokal. Dr. Okta menjelaskan bahwa identitas keagamaan kerap dijadikan modal politik dalam kontestasi lokal, termasuk dalam pemilihan kepala daerah.
“Kandidat yang dianggap lebih religius atau dekat dengan umat sering memperoleh dukungan lebih besar,” ujarnya.
Moderator Agus Sulistyo menyatakan bahwa forum diskusi ini penting sebagai ruang refleksi kritis.
“Diskusi ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dan masyarakat untuk membaca secara lebih jernih relasi antara agama, budaya, dan demokrasi di tingkat lokal,” katanya.
Sementara itu, penanggap Nurul Khawari menilai kajian sejarah dan kebudayaan penting untuk memahami dinamika keislaman di Surakarta.
“Pendekatan historis membantu kita melihat bahwa dinamika keislaman di kota ini telah berlangsung panjang dan terus berubah sesuai konteks zamannya,” ujarnya.
Kegiatan diskusi ini diikuti kader HMI, mahasiswa, dan masyarakat umum, serta menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad HMI ke-79.
Panitia berharap forum ini dapat memperkuat tradisi intelektual HMI sekaligus mendorong dialog kritis tentang dinamika keislaman, kebudayaan, dan populisme di Surakarta. []
- Penulis: Redaksi Goro-goro
